Patofisiologi Tuberkulosis paru (TB paru) melibatkan inhalasi Mycobacterium tuberculosis, suatu basil tahan asam (acid-fast bacilli).
Setelah inhalasi, ada beberapa kemungkinan perkembangan penyakit yang
akan terjadi, yaitu pembersihan langsung dari bakteri tuberkulosis,
infeksi laten, atau infeksi aktif.
Ketika seorang pengidap TB paru aktif batuk, bersin, menyanyi,
atau meludah, orang ini dapat mengeluarkan titik-titik air liur kecil (droplets) ke udara bebas. Droplets yang berisi Mycobacterium tuberculosis ini,
apabila terinhalasi orang lain akan masuk sampai di antara terminal
alveoli paru. Organisme kemudian akan tumbuh dan berkembang biak dalam
waktu 2-12 minggu sampai jumlahnya mencapai 1000-10.000. Jumlah tersebut
akan cukup untuk mengeluarkan respon imun seluler yang mampu dideteksi
melalui reaksi terhadap tes tuberkulin. Namun, tubuh tidak tinggal diam,
dan akan mengirimkan pertahanan berupa sel-sel makrofag yang memakan
kuman-kuman TB ini. Selanjutnya, kemampuan basil tahan asam ini untuk
bertahan dan berproliferasi dalam sel-sel makrofag paru menjadikan
organisme ini mampu untuk menginvasi parenkim, nodus-nodus limfatikus
lokal, trakea, bronkus (intrapulmonary TB), dan menyebar ke luar jaringan paru (extrapulmonary TB). Organ di luar jaringan paru yang dapat diinvasi oleh Mycobacterium tuberculosis
diantaranya adalah sum-sum tulang belakang, hepar, limpa, ginjal,
tulang, dan otak. Penyebaran ini biasanya melalui rute hematogen.
Apabila
terjadi keterlibatan multi organ, maka TB paru akan memerlukan
pengobatan yang lebih lama, hal ini biasanya sebagai konsekuensi
terhadap ketidakpatuhan penderita terhadap tatalaksana pengobatan TB,
atau keterlambatan diagnosis.
Kompleks Ghon
Lesi
tipikal TB dinamakan granuloma epiteloid dengan nekrosis kaseosa di
sentralnya. Lesi ini paling sering berada diantara makrofag alveolar
dalam daerah subpleura paru. Basil tahan asam berproliferasi secara
lokal dan menyebar melalui sistem limfatik ke hilar nodus, membentuk
kompleks Ghon. Lesi pertamanya mungkin sembuh dengan
sendirinya, dan infeksinya dapat menjadi laten sebelum gambaran
klinisnya tampak. Lesi-lesi yang kecil mungkin dapat sembuh secara
total.
Fibrosis dapat terbentuk ketika enzim hidrolitik
melarutkan dan meluluhkan lesi granuloma TB, dimana lesi yang lebih
besar akan dibungkus oleh kapsul fibrotik. Nodul-nodul fibrokaseosa ini
biasanya berisi basil TB hidup, dan merupakan lokus-lokus yang tahan
lama, serta berpotensi untuk aktif kembali atau membentuk kavitasi.
Beberapa nodul fibrokaseosa membentuk pengapuran, atau osifikasi yang
dapat terlihat jelas pada foto rontgen dada.
Infeksi TB Primer
Bila
tubuh inang tidak mampu untuk menahan infeksi awal, penderita akan
mengalami infeksi TB primer yang progresif. Eksudat bersifat purulen
disertai sejumlah besar basil tahan asam yang dapat ditemukan dalam
sputum dan jaringan paru. Granuloma subserosa dapat ruptur dan masuk ke
dalam ruang pleura atau perikardia, dan menimbulkan inflamasi ataupun
efusi serosa. Keadaan ini menjadikan penatalaksanaan TB sangat sulit
karena kemungkinan rekurensi penyakit setelah infeksi primer teratasi
tetap tinggi. [3-5]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar